Rabu, 12 Juli 2017

Sholeh di Ramadhan??? Sholeh juga Setelahnya

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).
Kata “Ramadhan” memiliki arti membakar, menyengat karena terik, atau sangat panas. Hal ini sesuai dengan kondisi pada saat Ramadhan dijadikan bulan yang diwajibkan untuk berpuasa, cuaca jazirah Arab pada saat itu sangat panas sehingga dapat membakar sesuatu yang kering. Bulan Ramadhan dijadikan bulan yang penuh keistimewaan dibandingkan bulan-bulan yang lainnya dengan  keagungan dan juga keutamaannya. Allah SWT memberikan keistimewaan bagi bulan Ramadhan karena dibulan ini mu’jizat terbesar yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW yaitu Al-Qur’an diturunkan. Selain itu, dibulan yang penuh dengan rahmat ini Allah SWT memerintahkan seluruh umat muslim baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda untuk melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan lamanya. Ibadah puasa menjadi ibadah yang istimewa karena merupakan ibadah yang menjalankannya dan Allah SWT saja yang mengetahuinya, sehingga tantangan untuk menjalankannya begitu berat dan hanya orang-orang yang memiliki iman diatas rata-rata saja yang dapat menjalankannya dengan maksimal.
Sebagai bulan yang penuh dengan keistimewaan, sudah tentu memiliki keutamaan. Keutamaan-keutamaan yang langsung Allah SWT memberikannya bagi orang-orang yang tulus ikhlas menjalankan dengan sepenuh jiwa dan iman yang memuncah. Banyak sekali keutamaan di bulan Ramadhan yang ditawarkan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya yang beriman, salah satunya adalah setan-setan yang biasa menggoda manusia untuk melakukan segala kemaksiatan dan menghalangi dari berbuat kebajikan di belenggu. Hal ini menjadi rahmat bagi kaum muslimin dan menjadi kesempatan besar untuk melakukan amal kebaikan dan meminta ampunan atas segala dosa-dosa yang telah dilakukan.
Momentum Ramadhan harus dijadikan kesempatan untuk berlomba-lomba dalam melakukan amalan ibadah baik itu ibadah mahdhah (ibadah yang murni ibadah, semata-mata tujuannya untuk mencari pahala) maupun ibadah yang sifatnya ghairu mahdhah (ibadah yang tidak murni ibadah. Satu sisi ibadah ini bisa bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah dan bisa tidak jika hanya berniat untuk dunia). Hal ini dilakukan karena berdasarkan riwayat, “bahwa amalan sunnah di bulan Ramadhan memiliki pahala yang sama dengan amal wajib. Satu amal wajib yang dikerjakan di bulan ini setara dengan 70 amal wajib. Barangsiapa yang memberi buka puasa untuk seorang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka, dan baginya pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” Kondisi seperti ini hanya terjadi pada saat bulan Ramadhan saja, tidak terjadi di bulan-bulan yang lain selain Ramadhan. Oleh sebab itu, sering kita melihat umat muslim ketika bulan suci Ramadhan tiba masjid seketika penuh, banyak orang-orang yang membaca Al-Qur’an, berlomba-lomba dalam bersedekah, dan juga menutup auratnya sesuai ajaran islam.
Namun, fenomena ini hanya bertahan rata-rata 10 hari di awal bulan Ramadhan. Setelah 10 hari awal Ramadhan berlalu ibadah-ibadah yang sudah dilakukan seketika ditinggalkan dan hanya sebatas formalitas saja kadangkala. Hanya sebagian kecil orang saja yang masih terus istiqamah untuk memanfaatkan momentum Ramadhan ini, itupun memang orang-orang tertentu saja yang menjalankannya karena memang mereka mengetahui keutamaan Ramadhan dan sudah menjalankannya dari tahun-tahun sebelumnya. Miris memang, sebagian besar tingkat keshalehan umat muslim terutama di Indonesia yang menjadi negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia hanya bertahan di bulan Ramadhan saja. Belakangan ini, fenomena shaleh di bulan Ramadhan saja mulai disadari oleh sebagian orang. Hal ini membuat orang-orang yang hatinya terpanggil dan ingin membantu membuat komunitas dan gerakan untuk membantu saudara-saudaranya sesama muslim untuk saling menjaga dan mengingatkan dalam hal kebaikan dan juga kesabaran. Karena sesungguhnya tujuan utama dari diperintahkannya kita untuk berpuasa di bulan Ramadhan dan keutamaan-keutamaan yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya adalah dapat mencapai derajat ketaqwaan yang hakiki.
Oleh sebab itu, perlu diperhatikan beberapa hal yang dapat menjaga kita untuk tetap istiqamah beribadah kepada Allah SWT tidak hanya dibulan Ramadhan saja amalan kita meningkat, namun dibulan-bulan setelah Ramadhan kita dapat terus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya. Beberapa hal tersebut adalah :
1.      Memahami dan mengamalkan intisari dari dua kalimat syahadat.
2.      Memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an.
3.      Mulai mengerjakan amalan-amalan yang sederhana namun mencoba untuk teratur.
4.      Tingkatkan keyakinan bahwa setiap hal yang kita lakukan akan ada balasannya di akhirat.
5.      Memiliki saudara dan sahabat yang saling mengingatkan dan menasehati dalam kebaikan.
6.      Membaca kisah orang-orang shaleh dan meneladaninya.
7.      Perbanyak do’a dan memohon pertolongan dari Allah SWT untuk mendapat ridha-Nya.
Hal terpenting yang harus disadari adalah ingatlah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian, tidak ada yang tau kapan malaikat izrail akan mencabut nyawa kita. Oleh sebab itu, maksimalkanlah waktu yang diberikan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya dengan setulus jiwa dan raga mudah-mudah ridha Allah selalu menyertai orang-orang yang taat dan istiqamah dalam beribadah kepada-Nya. Aamiin


Referensi: