Rumah Kepemimpinan adalah institusi yang menurutku
berbeda dari institusi sejenis yang ada saat ini. Saat ini banyak sekali
institusi-institusi yang mencoba untuk sama-sama membangun generasi penerus
perjuangan bangsa ini yang telah dititipkan oleh para pahlawan kemerdekaan
bangsa. Hal ini tentunya menjadi kabar gembira bagi bangsa ini, karena dibalik
permasalahan-permasalahan yang terus mendera masih ada orang-orang yang tetap
peduli dan optimis bahwa Indonesia masa depan akan lebih baik dan menjadi salah
satu bangsa yang disegani.
Kondisi ini membuat Rumah Kepemimpinan terus
berjuang untuk tetap hidup dan membina insan-insan strategis hingga terciptanya
pemimpin-pemimpin Indonesia di masa yang akan datang. Serangkaian pembinaan pun
dijalankan dengan dengan segala inovasi yang dilakukan untuk mengembangkan
potensi-potensi yang dimiliki oleh para pesertanya. Dibalik serangkaian
pembinaan itu, ada seorang supervisor (SPV) yang dengan tulus dan ikhlas
mengabdikan dirinya untuk institusi ini. Tugas yang tidak mudah tentunya harus
diemban oleh SPV karena harus membuat para peserta Rumah Kepemimpinan dapat
bersatu dan bersinergi membangun Indonesia.
Saat ini aku menjadi peserta Rumah Kepemimpinan
Regional V Bogor angkatan 8. Menjadi seorang SPV mungkin menjadi salah satu
impian bagi beberapa peserta Rumah Kepemimpinan. Karena dengan menjadi SPV di Rumah
Kepemiminan secara tidak langsung kits sudah berkontribusi dalam membangun
Indonesia dimasa mendatang.
Berbicara pembinaan adalah bicara tentang tugas
utama seorang SPV. Mulai dari menyusun agenda pembinaan harian, pekanan, hingga
bulanan sampai memantau dan membantu para peserta Rumah Kepemimpinan untuk
berprestasi dan mengembangkan dirinya. Regional V Bogor menjadi salah satu regional
yang menurutku memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, tidak
hanya oleh Eksekutif Regional termasuk SPV, melainkan juga dari para peserta
itu sendiri.
Jika aku diberi kesempatan untuk menjadi SPV, aku
akan mencoba untuk menyelesaikannya bersama-sama dengan peserta. Permasalahan
yang dihadapi oleh RK Bogor adalah semangat peserta untuk mengikuti agenda
pembinaan semakin hari semakin berkurang. Selain itu, kurangnya kedekatan antar
peserta membuat satu sama lainnya memiliki ego masing-masing, sehingga
kegiatan-kegiatan RK yang sifatnya bersama-sama tidak berjalan secara maksimal.
Menjadi seorang SPV tidaklah semudah membalikkan
telapak tangan. Diperlukan dorongan yang kuat dan pemahaman terhadap
nilai-nilai dasar Rumah Kepemimpinan. Hal pertama yang aku lakukan andai aku
menjadi seorang SPV di regional V Bogor adalah mengajak seluruh peserta untuk
berdiskusi dan menanyakan kondisi personal masing-masing peserta selama di bina
di Rumah Kepemimpinan. Selain itu, saya akan membuat kesepakatan dengan peserta
terkait pembentukan program-program yang itu sifatnya regional. Hal ini
dilakukan karena, rata-rata program pembinaan yang dilakukan umumnya bersifat “top-down” sehingga peserta lama-kelamaan
merasa jenuh dalam menjalankan program. Kondisi ini terjadi karena para peserta
belum menaruh seluruh isi hati dan raganya untuk Rumah Kepemimpinan. Oleh sebab
itu, untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan kesepatakan dengan peserta
terkait dengan program regional yang dijalankan dan bersifat “Bottom-Up” dari peserta. Harapannya
setelah dilakukan kegiatan ini para peserta dapat terbuka hatinya dan terpacu
semangatnya untuk terus berjuang bersama-sama di Rumah Kepemimpinan.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar